Skip to main content

HelloFest 2014 yang Sayangnya Dinodai Carut Marut Sistem Cashless dan Tenda Sauna

HelloFest 2014 adalah satu-satunya event pop culture yang saya datangi, kemudian pulang dengan rasa kecewa. Perlu diberitahu di muka bahwa liputan HelloFest 2014 ini tidaklah seindah liputan-liputan event lainnya… dan ini akan sangat-sangat panjang.

Semuanya Berubah Saat Negara Api Menyerang…

Beberapa hari sebelum HelloFest 2014 dimulai, terjadi sebuah drama yang membuat segenap insan melayangkan protes mereka di fanpage HelloFest maupun wall pribadi. Mendingan saya langsung kasih screenshot-nya aja (atau bisa juga ngepoin statusnya di sini):

Oh tidak, mendadak negara api menyerang!

20 November adalah dua hari sebelum HelloFest 2014 dimulai. Wow, sungguh mepet sekali… Saya nggak tau yang bertanggungjawab atas pengumuman dadakan ini bank sponsor utama itu, atau panitia HelloFest-nya. Entahlah, saya rasa ini ulah si sponsor itu yang secara semena-mena, mendadak memberlakukan sistem cashless pada H-2 acara.

Sebagian besar komentar mengeluhkan bahwa sistem cashless sebagai hal yang sangat merepotkan. Para pengunjung yang belum memiliki e-Money dari si bank sponsor utama harus membeli kartu seharga Rp 40.000,- tapi hanya mendapat saldo Rp 20.000,-

Masalahnya lagi, nggak semua orang merupakan nasabah dari bank tersebut. Saya sendiri udah ada kartu pembayaran instan, tapi itu Flazz BCA. Bahkan saya sebenarnya punya dua Flazz BCA (pertama bikin langsung di BCA, kedua karena merangkap kartu Kompas Gramedia).

Bagi sebagian calon pengunjung lain, memakai e-Money dari bank sponsor utama HelloFest itu adalah hal yang mudah-mudah saja. Soalnya mereka cuma perlu beli kartu e-Money di TKP dan bisa topup di tempat. Namun komentar bernada positif ini tenggelam diantara ratusan komentar lain yang merasa keberatan dengan sistem cashless.

Yah, soal praktis-enggaknya beli dan topup e-Money ini balik lagi ke diri masing-masing. Ada yang bisa menerimanya dengan mudah. Namun nggak sedikit yang merasa terbebani.

Drama ini pun menuai komentar-komentar berbunyi, “Gue kayaknya nggak jadi dateng ke HF,” dan semacamnya.

Lalu beredar pula ketentuan Program Sponsor Utama ini di wall Facebook orang-orang:

Entah pada dapet dari mana gambar ini; nggak tau deh ya.

Seorang calon pengunjung mengibaratkan pooling kasir (poin 8 di ketentuan Program Sponsor Utama) seperti food court. Hal yang bisa dibilang… ngenes, kok bisa-bisanya sistem transaksi sebuah artist alley disamakan dengan food court… Justru seninya belanja di artist alley adalah bertransaksi langsung dengan para artist-nya. Uang tunai dari pembeli, ditukar dengan karya seni dari artist! Untuk hal ini, saya sangat setuju dengan komentator di atas.

Pada wall salah satu pengguna Facebook, giliran para exhibitor Indie Pop yang mengutarakan kekecewaaan mereka.

Sistem cashless nggak hanya dinilai merepotkan oleh para calon pengunjung. Para artist yang notabene exhibitor di seksi Indie Pop pun merasa dirugikan dengan sistem ini. Nggak, bukannya mereka nggak mau repot mempelajari sistem pembayaran baru… yang menjadi kekhawatiran utama di sini justru terletak pada pencairan dana.

Jika bertransaksi dengan sistem cash, dana akan langsung masuk ke kantong para artist (bisa langsung buat menutupi biaya produksi dan sewa tempat). Bagi para artist yang berasal dari luar kota, mereka bahkan mesti mengeluarkan dana yang nggak sedikit dalam urusan transportasi dan akomodasi. Beberapa artist temen saya ada yang domisili Bandung. Selain mereka, tentu ada yang berasal dari kota-kota lainnya (bahkan mungkin luar Pulau Jawa).

Lain halnya jika mengikuti sistem cashless yang diterapkan oleh bank sponsor utama ini. Dana akan ditahan dulu oleh pihak bank. Makan waktunya pun cukup lama. Menurut pengakuan seseorang di komentar atas, dana baru bisa cair dalam tempo 1-3 bulan. Ya, itu kalau bisa cair sepenuhnya… Kalau ada dana yang terpotong karena suatu dan berbagai hal (misalnya ada nota yang hilang entah ke mana), gimana ceritanya?

Masalahnya… percayalah; para artist udah banyak mengeluarkan kocek pribadi mereka (mungkin bahkan ada yang dari dana tabungan) buat produksi barang dagangan, sewa tempat, transportasi, dan akomodasi. Mereka tentunya butuh uang cepat dari hasil penjualan produk, buat menutupi modal (sekaligus mengambil laba tentunya).

Meski begitu, pada akhirnya para artist ini memutuskan bahwa the show must go on. Sesi curcol bersama pun ditutup dan mereka akan berusaha melakukan yang terbaik selama dua hari HelloFest 2014.

Beralih ke Ticketing

Oke, cukup dengan galau-galau ria di social media. Sekarang mari langsung menuju liputan HelloFest 2014 versi Bocah Kertas. Menuju ke TKP untuk melihat bagaimana penerapan sistem cashless pada hari-H HelloFest 2014.

Tapi pertama-tama, mari mulai dulu dengan gerbang masuk event.

Saya tiba di area Tennis Indoor Senayan sekitar jam 11. FYI, kunjungan dilakukan pada hari Sabtu. Meski masih tergolong ‘pagi’, suasana udah rame banget. Antrian waktu mau beli tiketnya pun lumayan panjang (walau nggak se-luar-binasa AFA). Karena nggak sempet ke Indomaret (dan Depinz gagal beli karena sistem Indomaret-nya lagi ngaco), saya pun beli tiket on the spot. Sementara itu antrian tiket pre-sale Indomaret lapang banget, jadi Oyabun sama Ade langsung dapet tiket dalam sekejap.

Loket tiketnya dibagi empat bilik: dua bagian kiri untuk pembelian on the spot, satu untuk tiket pre-sale Indomaret, sementara yang satunya lagi agak-agak serba guna (tiket pre-sale Indomaret, tiket yang terdapat di official bundling HelloFest 10, dan penukaran undangan).

Mari Membeli e-Money

Sekitar 20 meter dari loket tiket, terdapat booth kecil untuk membeli e-Money. Yak, bisa dilihat berbagai produk dari bank sponsor utama ada di sana.

Para pengunjung bisa beli kartu e-Money dengan kocek Rp 40.000,- (di dalamnya udah terisi saldo Rp 20.000,-). Topup saldo pun bisa dilakukan di tempat, menggunakan uang tunai maupun kartu debet dari bank sponsor utama itu.

Sekedar info, maksimum topup per kartu adalah Rp 1.000.000. Tapi kalau ada yang mau beli, katakanlah figure seharga Rp 1.200.000, gimana ya transaksinya?

Yak, jadi inilah penampakan kartu e-Money yang saya beli. Sebenarnya ada desain-desain kartu yang lebih kece lagi, tapi yasudalah ya… Nggak lupa, saya pun melakukan topup, jaga-jaga kalau di dalem nanti beneran nggak bisa transaksi secara tunai.

Toilet yang, satu kata: PARAH (pakai banget)

Selesai urusan dengan tiket dan e-Money, saya sama Oyabun pun masuk. Karena kebelet, hal pertama yang dicari adalah toilet. Celingukan sana-sini di luar gedung ijo tempat ruang ganti cosplayer KostuMasa, akhirnya ketemu petunjuk bertuliskan toilet.

Alih-alih lega dengan keberadaan toilet… Saya malah waswas. Waktu masuk, ada dua bilik yang kosong. Secara otomatis, tentu aja saya nyoba masuk ke bilik yang paling deket sama pintu masuk duluan dong. Tapi pas nutup pintu, saya pun sadar kalau… “Hei, kok nggak ada grendel atau apalah buat ngunci pintu?”

Saya keluar lagi dan beralih ke bilik ketiga, yang juga dalam keadaan kosong. Tebak apa? Kondisinya pun serupa dengan bilik pertama!! Gimana bisa melakuan ritual buang air dengan tenang, coba?!

Jadi saya nanya ke mas-mas penjaga toilet (iya yang kayak kalau mau numpang buang air di pom bensin itu), “Mas, itu toiletnya pada nggak bisa dikunci?” dan dijawab, “Iya.”

Minta dibejek-bejek banget nggak sih? Dan FYI, seperti halnya mas-mas penjaga toilet pom bensin, terdapat kotak buat bayar biaya toilet. Duitnya dikemanain lah, sampai-sampai semua toiletnya nggak punya grendel buat ngunci pintu?

Dengan terpaksa, saya beluar lagi dan manggil Oyabun yang nunggu di luar buat jagain pintu. Ampun deh… dengan kejadian ini, tingkat kelayakan toilet pom bensin jadi naik level jauh. Dan saking keselnya, saya asal lewat aja, sementara si mas-mas penjaga toiletnya asik ngitungin duit. Toilet kayak gini nggak ada pantes-pantesnya buat dibayar.

Masalah toilet aja panjang bener ya urusannya? Tapi emang mengecewakan banget, sih 😛

Sistem Cashless Ini Sangat Nggak Siap

Selesai urusan pertoiletan, saya sama Oyabun pisah. Saya mau nyari Depinz, sementara Oyabun mau nyari Panda. Tapi akhirnya sih, malah saya duluan yang nemu Depinz sekaligus Panda 😛

Oh well, singkat cerita akhirnya saya sama Depinz keliling-keliling.

Ada sebuah booth yang menjual produk-produk handicraft. Dan saya naksir salah satu kalungnya. Dengan anggapan bahwa semua booth di HelloFest sistemnya cashless, saya nanya apakah bayarnya bisa pakai e-Money. Pemilik booth menjelaskan bahwa mereka punya mesin EDC-nya, tapi lagi nggak bisa dipakai karena jaringannya lagi ada gangguan.

Wow, sesuatu banget. Baru kerasa kan, gimana rempongnya pakai sistem kayak gini? Kalau misalnya ada skenario di mana semua pengunjung cuma bawa e-Money (tanpa uang tunai sama sekali), dan terjadi kasus gangguan jaringan, apa jadinya?

Akhirnya uang tunai lagi yang kembali berbicara…

Lain halnya waktu saya mau beli kaos LINE. Kali ini kasusnya bukan soal gangguan jaringan, tapi penjaga booth-nya yang nggak ngerti cara pakai EDC! Alkisah, para exhibitor cuma dikasih selembar kertas berisi intruksi cara penggunaan mesin EDC. Tanpa dikasih liat praktek langsungnya. Karena itu penjaga booth-nya lebih menyarankan transaksi secara tunai aja.

Apa banget nggak, tuh?

Para penjaga booth itu pun kebingungan. Mereka sampai ngirim orang buat nyari panitia atau siapapun yang ngerti cara pakai mesinnya. Saya sama Depinz kemudian ngeliat-liat booth lain dulu, sambil nunggu kejelasan nasib. Sekitar 10 menit kemudian, barulah orang dari booth pernak-pernik LINE nyamperin kita, ngasihtau kalau mesin EDC-nya udah bisa dipakai.

Berkaca dari dua kejadian ini, sudah pantaskah bank sponsor utama memaksakan kebijakan sistem cashless, sementara pada saat prakteknya ini… bisa dibilang, jauh sekali dari kata siap?

Ujung-Ujungnya Uang Tunai Lagi, Kan?

Meski terjadi drama sistem cashless yang dipaksakan oleh bank sponsor utama, faktanya para exhibitor sangat-sangat menyarankan agar para pengunjung berbelanja dengan uang tunai aja. e-Money, kartu debet, atau apapun itu hanya digunakan sebagai opsi terakhir kalau ada pengunjung yang udah terlanjur menyisihkan budget belanjanya ke sana.

Ya, pada akhirnya transaksi dengan uang tunai menang… Syukurlah.

Para Artist dan Tenda Sauna

Para exhibitor dibagi dalam beberapa zona. Tapi pada dasarnya, ada tipe booth. Tipe pertama: booth berbentuk tenda-tenda kecil (satu exhibitor menempati satu tenda), yang terletak di area outdoor. Kedua: sebuah tenda besar yang menampung banyak booth di dalamnya (indoor).

Langit mendung pada Sabtu siang. Cuaca yang cukup bersahabat bagi para exhibitor yang mendapat tempat di area outdoor.

Namun lain halnya dengan puluhan exhibitor yang menghuni satu tenda besar…

Pada tenda Polar A ini, antar booth-nya memiliki ruang kosong yang cukup (walau nggak gede-gede amat sih). Ada belasan (atau sekitar 20?) booth di sini. Waktu saya sama Depinz pertama masuk kemari, suasana belum begitu ramai, jadi kita bisa bebas lalu-lalang dan nggak ngerasa kepanasan. Tapi menurut cerita Depinz yang akhirnya ngejaga booth re:ON, makin sore itu makin rame. Akhirnya jadi sempit juga dan dia nyaris jadi pepes saking kepanasannya.

Beralih ke tenda Polar B yang sekaligus menjadi rumahnya Indie Pop tempat para artist berkumpul (foto atas). Total kayaknya ada lebih dari 30 exhibitor (atau menyentuh 40?) di tenda ini.

Kalau sering dateng ke acara-acara yang ada artist alley-nya, kebayang dong ya booth mereka bentuknya gimana? Maaf, nggak sempet foto bagian dalemnya. Dijelaskan dalam bentuk tulisan aja.

Intinya masing-masing exhibitor dikasih satu meja selebar kira-kira satu sampai satu setengah meter (ukuran standar meja artist alley). Dan beda dengan booth di area-area sebelah, nggak ada jarak antar exhibitor. Semua mejanya nempel satu sama lain.

Per satu booth dihuni rata-rata dihuni oleh lebih dari tiga orang, dengan ruang gerak super sempit. Booth artist alley di PopCon 2014 sebenarnya juga nggak luas-luas amat, tapi sekarang jadi terkesan jauh lebih lega karena versi HelloFest 2014 bener-bener sempit pake banget.

Di event lain, sebut aja Comifuro 4, space yang disediakan pun nggak begitu besar dan antar exhibitor mejanya juga saling berdempetan. Namun apa yang membedakan artist alley HelloFest 2014 dengan Comifuro 4?

Comifuro 4 digelar di lapangan basket indoor besar, tanpa AC, banyak jendela.

Indie Pop HelloFest 2014 digelar di tenda, tanpa AC, tanpa jendela.

Meski saya mengakui kalau venue Comifuro 4 itu agak panas… Percayalah, tenda Indie Pop HelloFest 2014 ini jauh lebih panas lagi. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, di tenda itu nggak ada jendela. Dan ratusan orang ngumpul di sana pula. Setidaknya di lapangan basket Comifuro gw betah berjam-jam di dalem, tapi di tenda yang satu ini saya nyerah dalam waktu 15-20 menit (itu pun udah dibela-belain demi nyamperin temen artist dengan codename Kucing Merah dan Kucing Biru).

Tenda ini ibarat ruang sauna raksasa…

Waktu belanja, saya ngeliat para artist banjir keringat semua. Saya yang cuma sebentaran di situ aja rasanya udah gerah, capek, bin letih banget… Gimana mereka yang harus jaga booth sampai malem? Nggak bisa bayangin betapa kepanasan dan letihnya mereka.

Kalau ternyata ada yang pingsan karena heatstroke, saya nggak bakal kaget.

Rawan Bukti Pembayaran yang Hilang dan Tertukar

Perhatian: bukan judul sinetron.

Ngomong-ngompong soal para artist, masih inget dengan poin 8 di ketentuan Program Sponsor Utama? Tak tampilin lagi supaya nggak ribet scroll ke atas.

Jadi karena budget belanja saya ada di e-Money… dengan amat sangat terpaksa, saya belanja di Indie Pop dengan kartu itu. Nggak enak banget sama mereka sebenarnya (karena masalah pencairan dana yang lama pake banget), tapi apa boleh buat…

Singkat cerita, saya belanja dari dua booth. Keduanya ngasih nota, yang tentunya cuma berupa nota polosan standar yang biasa kita temukan di toko-toko buku. Nggak mungkin lah ya mereka sempet bikin nota khusus, sedangkan sosialisi sistem cashless baru diumumkan ke para exhibitor pas H-3. Yang membedakan satu sama lain hanyalah nama produk, nominal belanjaan, dan ada kode booth yang ditulis pada ujung nota.

Rawan tertukar (dan hilang) di tangan pooling kasir, menurut saya.

Sistem pembayarannya persis kayak food court. Pada buku nota terdapat lembaran putih dan pinkExhibitor akan memberikan nota putih ke pengunjung, sementara yang pink disimpan oleh pemilik booth.

Pengunjung bisa mengumpulkan nota-nota dari banyak booth, kemudian baru bayar sekaligus di pooling kasir. Atau belanja di satu booth – bayar – belanja lagi – bayar. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Kalau memakai sistem pertama, ada kemudahan dalam pembayaran. Cukup membayar sekali aja pakai kartu, di satu tempat. Tapi kalau belanja di, katakanlah 5 booth, maka petugas pooling kasir harus memproses pembayaran sebanyak lima kali juga. Nggak digabung karena transaksinya melibatkan nota dari lima exhibitor yang berbeda.

Tapi agak membingungkan waktu mau mengambil belanjaan dari booth. Nota putih diberikan ke petugas pooling kasir; sebagai gantinya pengunjung diberi slip kertas bukti pembayaran seperti kalau biasa melakukan pembayaran dengan Flazz BCA. Di mana pada kertas itu hanya tertulis saldo awal, jumlah pembayaran, dan sisa saldo (tanpa nama booth).

Saya sendiri pakai sistem pertama. Belanja dari dua booth, dengan tiga nota. Waktu balik ngambil belanjaan, sempat terjadi sedikit kebingungan karena di bukti pembayarannya cuma ada nominal pembayaran. Untungnya saya masih inget perkiraan jumlah belanjanya, sementara dari sisi exhibitor pun ada lembaran nota pink.

Sistem yang kedua merepotkan di sisi harus banyak bolak-balik, tapi pengunjung nggak bakal bingung waktu mau ngambil barang belanjaan (karena udah pasti bukti pembayaran yang dipegang itu berasal dari booth yang bersangkutan).

Kesimpulan

Waktu mengunjungi Comifuro 4, PopCon 2014, Cocoon Festival 2014, dan berbagai event tahun-tahun kemarin saya betah nangkring di venue dari jam buka sampai para exhibitor beberes lapak mereka. Tapi nggak dengan HelloFest 2014. Sekitar jam setengah tiga, saya udah capcus ke FX. Setengahnya karena ngikut Oyabun, setengahnya karena emang nggak betah sama si tenda sauna.

So… ini event terburuk yang pernah saya datangi. HelloFest 2012 era Balai Kartini, biarpun tempatnya penuh sesak banget, masih lebih baik dari ini.

Kritik-kritik yang saya lontarkan di atas barulah sebagian kecil (banget) dari berbagai kekacauan HelloFest 2014. Bagi yang mau ngepoin reaksi para pengunjung lain, silakan baca komentar-komentar pada post ini.

Satu yang saya hargai dari panitia, mereka mengakui kesalahan dan menjawab semua kritik yang masuk (bahkan menanggapi kritik yang paling pedas sekalipun).

HelloFest, Kutunggu Sepak Terjangmu Tahun Depan!

Meski HelloFest tahun ini kacau banget, sebagai penikmat pop culture tentu saya berharap HelloFest bisa tetap ada di tahun-tahun mendatang. Soalnya HelloFest sendiri bisa dibilang adalah event pop culture dengan sejarah paling panjang di Indonesia. Udah 10 tahun lho sejak 2004. Ironis banget kan, kalau gara-gara kekacauan tahun ini, HelloFest bakal bubar jalan begitu aja?

Jadi saya harap kekacauan HelloFest 2014 ini justru menjadi cambukan bagi para panita untuk lebih mengusahakan yang terbaik di tahun 2015 atau 2016. Dan tentunya lebih berhati-hati perihal sponsorship (kalau perlu sewa jasa pengacara supaya nggak ‘dikerjain’ sponsor), serta pemilihan venue yang lebih layak lagi bagi pengunjung maupun exhibitor.

Saya menantikan saatnya menulis liputan event HelloFest mendatang dengan suasana hati ceria. Please, no more Hell-o-Fest.

18 thoughts to “HelloFest 2014 yang Sayangnya Dinodai Carut Marut Sistem Cashless dan Tenda Sauna”

  1. wew, liputan nya hampir seluruh nya true(bisa dibilang ture semua bahkan, cuman gua cuman bilang hampir doang :v )

    pas datang ke hari pertama HF, datang dengan cuman bawa uang cash, ga beli e-money ataupun semacam nya(karena pake Flazz ga bisa katanya). dengan firasat, ga mungkin pemberitahuan mendadak gini bakalan lancar.
    jadi pas ngunjungin booth nya, nanyain “ini bisa pake cash ga?”, dan hampir 70% booth bilang “bisa” atau “iya, mesin nya lagi rusak”, baik itu di booth merchandise ataupun food court =w=

    soal yang toilet, gua ga bisa ngomong karena gua baru tau ada toilet kayak gitu pas di HF kemaren, gua cuman nemu toilet yang ada di mobil gitu wkkw

    1. Tadinya gw pengen ‘ngebandel’ juga dengan cuma bawa uang tunai. Sebenarnya pas liat-liat pembicaraan para artist di FB, mereka juga mengindikasikan bakal pakai ‘cara bandel’. Tapi yaaa, gitu deh, akhirnya dengan dodolnya gw isi e-Money juga karena kata temen yg udah dateng duluan banyak yg beli e-Money, LOL.

      Wah, baru ngeh ada toilet-mobil. Liatnya ATM mobil si bank sponsor XD

  2. Suram abis. tahun lalu gegara sponsorship indomaret aer selain aer indomaret gaboleh masuk, ampe dicek segala tasnya.
    tahun ini sponsorship emoney yang bikin ribet.
    mau gimana sih ya.. kalo gada sponsor ga ada hf nya juga.. moga moga tahun depan hf nyewa 2 gedung balai kartini wwwwwwwwww

    1. Ini kenapa sponsor 2013-14 pada nganeh-nganeh ya… Waktu 2012 padahal nggak ada pemeriksaan maupun paksaan metode pembayaran, bebas banget mau nungging jungkir balik.

      2012 lupa, mereka nyewa satu atau dua hall Kartini, ya? Pas 2012 aja udah penuh-sumpek (walau sesumpek-sumpeknya nggak sampai jadi sauna sih) XD

  3. Acara yg diagungkan para ANIMU & MANGU LOVERS , HelloFest 2014 !!
    TERNYATA, TERBURUK SEPANJANG SEJARAH !!

    System : -1/10
    Service : -3/10
    Security : -5/10
    Satisfaction : -0/10
    After Events : -1/10
    Overall : -10/10

    PERFECT BULLSHIT untuk Tahun ini !!
    Tahun depan buat yg LEBIH BULLSHIT lagi misal :

    Tempatnya di Lapangan Bola , trus waktu acara eh ternyata untuk pertandingan Persija vs Sriwijaya FC , krna g terelakkan akhirnya Pertandingan ttp dilaksanakan dgn acara Hellofest 2015 ttp berjalan, Alhasil bnyk pengunjung yg Terluka terkena tendangan,jegalan,dan bola.
    Belum lagi, di Toilet sekalian pasang Kamera Webcam trus di Streaming di Youtube, dan admin membagikannya ktka acara brlngsung, NIKMAT !!
    Ketika cara berakhir jam 5 sore misal, Langsung USIR semua pengunjung dan peserta dgn menggunakan Jaring ikan dan tarik , seret ke jalan.
    PASTI SEMPURNA~~ hahaha,,

    Kenapa saya ngomong demikian coba perhatikan 3 Faktor di HelloFest 2014 ini :

    1. Neraka bagi para Cosplayer : ( wiwkwi Kasihan luu dull )

    Avar Yordan ( narasumber )
    Setelah kita diperlakuin seenaknya kyk gt kita gk boleh kecewa gt bro?kl acara mau sukses jgn cm ingin doang bro,tp buktiin dgn cara ngehargain cosplayer bro.
    Kita gk nuntut acara buat sempurna,tp gk ancur kyk gt jg bro.kl panitia emg meyakini disitu salah satu wadah nya cosplayer,gk mungkin kita diusir dr ruangan seenaknya aja.banyak cosplayer gk bisa kmn2 gara2 tas terpaksa ditaroh di emperan.

    Kl mas bro nyuruh kita renungin kl event ini gk ada,buat kita gk masalah.masih banyak kok event2 lain.
    Mas bro bisa ngomong ambil positif nya krn gk liat cosplayer2 yg hrs jaga tas mreka di emperan.mreka gk bisa seneng2,mreka gk bisa joget2,mreka jg sulit buat foto.yg mreka rasain cm kecewa.sampe ada yg nangis gara gk bisa ngambil tas nya.

    Panitia sama admin ngerasain gk cosplayer yg hati nya hancur gara2 diusir seenak jidat gt?apalagi yg tiba2 tas mreka ada di aspal.itu tas,bukan sampah.kl hati kalian hancur,apa kabar temen saya yg sampe nangis krn dilarang buat ngambil tas padahal dia mau pulang.
    Saya ngomong apa ada nya aja.kalo A saya ngomong A,kl B saya ngomong B

    Jd tolong,jgn comment yg kesan nya it’s okay bro.jgn selalu ngelindungin pencitraan di atas kekecewaan cosplayer bro.kita gk butuh itu.

    KEJEM BANGET PENGURUSNYA, ASUU

    1. SECURITY TAK BERMORAL, KASAR, DAN HINA BAK PENJAGA SEL TAHANAN

    Bibeck DA ( narasumber )
    Securitynya saya pengen tampar please. Saya ga paham apa temperamen security itu tinggi atau apa, tapi pas urus alur keluar masuk teater (yang awalnya emamg 1 akses doamg) masa sih harus ngusir pake bentak, seakan2 pengunjung dan cosplayer itu kriminil? “KELUAR WOY KELUAR! KELUAR!” sejenis satpam apa ini? Bahkan pakai aksi dorong. Nanya toilet dimana dibentak. Bikin sewot.
    Adapun satpam tidak sopan. Saya tahu ada clearing (entah apaan dan buat apa) di ruang ganti kostumasa, tapi perlukah satpam laki-laki masuk ke ruang ganti perempuan, kemudian berkata gak sopan hingga kesan mesum dan bahkan sempat menghina fisik cosplayer yang sedang berkaca?
    Ada lagi ketika clearing, cosplayer memang dilarang masuk…fine. Tapi ga masuk akal juga hrus berantem sama satpam buat sekadar ambil barang ketika MAU PULANG.

    E-money itu sial sekali apalagi kalau diberitakan H-2, menyusahkan seller dan buyer dengan informasi ngawang dan tidak jelas.

    Ignatius Aditya Wisnuwardana ( narasumber )
    dan yang terakhir saya mengharapkan kalau jangan memberi tender acara nya jangan ke EO VOILA lagi, jujur secara management memang bagus tapi secara attitude benar2 minus apalagi bagian keamanan , kami pengunjung, cosplayer, tenant diperlakukan bak layaknya tahanan.
    Diteriaki, di dorong kasar, dll
    Ketika saya bertanya bagian LO panggung untuk memastikan sound, saya hanya di tunjukkan secara tidak sopan, dan si panitia tersebut hanya bilang “disitu tu disitu cari saja”.

    Digitama Gabumon Hellofest Kostumasa ( narasumber )
    bukan cuma security yang TIDAK SOPAN melainkan dengan orang yang memakai BAJU CREW di bagian RUANG GANTI juga TIDAK MEMPUNYAI SOPAN SANTUN DAN ETIKA….

    Jadi untuk HF supaya pengunjungnya gak berkurang tahun depan tolong pemilihan CREW DAN SECURITY dicari yang kompeten bukan asal comot…
    Satu hal lagi berkaitan dengan “TAMU VIP” yang diagung-agungkan kalian itu sampai2 kami para Cosplayer peserta Costreet (yang jumlahnya terbanyak) merasa terhina karena diusir oleh crew dan satpam kurang ajar itu… TAMU VIP sudah seharusnya diberikan tempat tersendiri bukan campur aduk seperti kemarin atau anda pembuat acara Hellofest MENGANGGAP bahwa kami hanya sebagai “badut” sebagai peramai acara?

    1. E-money yg BUSUK

    E-money dari Bank Mandiri ini sistemnya GEMBLUNG , masa’ pengumuman H-2 wkwk,
    trus udah bnyk yg beli E-money berbentuk kartu dgn saldo, sampe di dalem bnyk trouble mesinnya pada rusak dan mati, g nyambung kek, dll.
    ujung”nya sebagian besar stand malah menyarankan CASH , ad yg kebuang sia” saldonya, ad yg g bisa beli bnyk krna uangnya udah jadi E-money, bhkn ad yg ketukar kartunya , saldonya pun ikut ketuker, wkkw
    Ini mah PEMERASAN, PENGUNJUNG ANIMU & MANGA JADI BAHAN SAPI PERAH sama HELLOFEST, wkwkkw :v

    UANG,, UANGG,, DAN UANGGG,,,, !!

  4. HF Strikes again.
    Kemarin gw udah sempet kritik di FP-nya, sekarang baca-baca tulisan di sini ….
    Yah, gw rasa situ ada benarnya juga.
    Dari semua event yg gw datangi tahun ini (Ennichisai, AFAID, PopCon, Jak-Japan Matsuri, Gelar Jepang UI 2014 dan HelloFest) Yang terburuk menurut gw hanya HelloFest saja.
    Pasalnya, sistem E-Money itu “Terlalu mendadak”. <(")

    1. Yup… Kalau nggak semendadak itu efeknya mungkin nggak akan sedrama kmaren itu sih, hahaa. Walaupun misal diumumin 1-2 bulan sebelum acara, pasti ada yg ngeluh juga sih (karena rempong)

  5. She’s bloody right [Mksd gue si Dreamy Kiddy]

    Cuma gara2 dua sponsor dan persiapan sponsornya sangat buruk, akhirnya acara HelloFest sangat mengecewakan. Dan iya, gue jg termasuk korban “Kehilangan” uang cm buat beli kartu E-Money termasuk tambah saldo jadi Rp 50K, yg lebih parah lagi, ampe sana ujung2nya jg make uang tunai buat bayar + sebagian besar stand pada gak tau sistem pembayaran E-Money dan masih sangat bersyukur karena masih bisa dipake di sebagian toko kyk 7/11.

    Well, setidaknya masih bisa dapet 2 replica M9 Berreta dan bisa ketemuan F2F ama temen2, dan mungkin ini terakhir kalinya gue ke HelloFest, for good…

    1. Namanya kok ikut-ikutannn, wkwkwkw XD

      Duit gw masih ngendep di e-Money, OTL. Hypermart Puri (kata mas-masnya) nggak ada EDC buat e-Money, sedangkan di Alfamidi deket rumah ada mesinnya tapi lagi gangguan apa gimana gitu… Cabe deh (typo intended).

      Eeh, ada yg jual replica guns di sana? Nggak liat kmarin, OTL

  6. This nick? Ini sebenernya jg cm nick di game Drift City USA yg gue pake [Maap klo mirip] XD

    Sebenernya bkn replica senjata sih, cm cigar lighter dalam bentuk senjata, tp karena slidernya bisa ditarik, yowes gue beli, tapi yg ini sih lumayan bahaya, bs ampe ungu – merah warna apinya saat korek apinya dinyalain.

    Kalo HelloFest, jujur itu baru pertama kali gue ke HelloFest, dengan alasan mau ketemuan F2F ama temen, dan yg seperti gue bilang sebelumnya, mungkin ini pertama dan terakhir kalinya gue ke sana.

    1. Kebetulan banget yoo namanya XD

      Oow, lighter gun toh. Kirain airsoft gun, hahaa. He eh, bahaya. Asal jangan sampai dimainin anak kecil aja lighter gunnya.

      Too bad pengalaman pertama malah kayak gini ya^^ Padahal yg 2012 termasuk asik HF-nya 🙁

  7. Oh ya, buat masalah penggunaan E-Money, gue saranin pake di 7/11 aka Seven Evelen, karena di sana mungkin lebih efektif aja ketimbang makenya di Alfamart / Indomaret 😀

    1. Tadi problemo solved waktu jalan bareng temen. Abis gw cerita soal Hypermart & Alfamidi tadi, dia coba pake kartunya buat bayar tol. Terus dia beli kartunya dari gw, dengan harga sesuai saldo yg kesisa di kartu e-Money itu XD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *