Skip to main content

Ada Apa dengan Kaum Hawa di Vandaria Saga: Tabir Nalar?

Behold! Sebuah sesi bacot teranyar dengan topik para wanita di Vandaria Saga: Tabir Nalar. Spesifiknya, penggambaran para karakter perempuan yang menurut kacamata saya sebagai kaum Hawa… keliatan salah banget.

Jadi pada suatu hari yang cerah nan damai, salah satu anggota grup LINE saya membagikan sebuah gambar yang bikin alis saya mengernyit. Sebuah gambar yang sekilas terlihat seperti cewek yang biasa ada di dakimakura (bantal panjang buat dipeluk-peluk otaku), bahkan eroge (game erotis).

…akan tetapi saya salah!

Gambar yang menampilkan karakter bernama Rilsia Alass (dasar setan alas!) ini ternyata adalah bonus pembatas buku dari sebuah novel fantasi normal. Catet: normal, bukan novel erotis berbungkus setting fantasiyah!

*jawdropping*

Are you kidding me?!

Ada beberapa alasan yang membuat saya berpikir kalau pembatas buku ini bak gambar adegan sisipan di sebuah eroge: bajunya yang revealing, dadanya guede pisan, posenya lagi baring nggak berdaya, dan entah kenapa mukanya diset dengan ekspresi tersipu nggak jelas!

Sumpah, ini pembatas buku salah banget! Entah apa yang ada di pikiran Felix Adrianto, ilustrator Tabir Nalar, waktu ngegambar ini…

Singkat cerita, akhirnya saya minjem Tabir Nalar dari temen yang pertama ngebagiin gambar ala eroge itu. Dan setelah selesai baca, nggak ada yang salah sama cerita novel ini. Tiada adegan ero atau semacamnya; bahkan yang menjurus ke sana pun nggak ada.

TAPI!!

Lain halnya dengan penggambaran para karakter berjenis kelamin perempuan. Baik dari segi ilustrasi sisipan, maupun kata-kata yang dipakai pada kalimat deskriptif.

Dari semua ilustrasi sisipan yang ada di novel ini, karakter-karakter perempuan yang mejeng di situ semuanya punya bodi aduhai dan payudara berukuran guede pisan. Nggak Rilsia, nggak Cahstyne, nggak Kirra; sami mawon. Nggak ada tuh, yang bodinya kayak papan penggilasan. Yaa, bodi papan kayaknya terlalu ekstrim sih. Tapi nggak ada banget gitu, cewek yang sedang-sedang aja?

Di paragraf deskripsi pun selalu saja ada kalimat yang menjabarkan tentang tubuh sintal, bodi kencang, lekuk tubuh, dan kawan-kawannya.

Pertanyaannya: ide semua-cewek-mesti-berbodi-aduhai itu emang berasal dari tulisan Rynaldo C. Hadi (pengarang novel ini), atau justru doi kebanyakan nulis deskripsi bentuk tubuh karena ngikutin gambar yang dikasih Felix?

Di saat sebagian pembaca lain (mungkin) berkomentar, “Wow, hot sekaleee si Rilsia, Chastyne, sama Kirra!” saya sebagai sesama cewek malah jadi risih sendiri. Risih karena para kreator buku ini dengan sengaja mengekspos keseksian tubuh wanita di berbagai kesempatan.

Don’t get me wrong, though. Sebagai orang yang udah melahap berbagai anime dan manga dari kecil, pemandangan karakter perempuan berbodi sintal dengan oversized boobs udah jadi hal biasa bagi saya.

Parade itu biasanya emang sengaja dimasukkan buat jadi fanservice, tapi apa Tabir Nalar tempat yang tepat buat beginian? Saya bilang, salah tempat banget. Nggak dikit juga sih, ilustrator komik yang ngegambar karakter-karakter cewek dengan kriteria sama, tapi bedanya mereka nggak menimbulkan kesan seerotis ini.

Entahlah… Ada faktor yang bikin saya nggak nyaman dengan cara ilustrator Tabir Nalar ngegambar bodi para karakter cewek, sehingga saya selalu menilainya sebagai fanservice salah tempat.

Dan isu tentang kaum Hawa di Tabir Nalar pun berlanjut ke cover yang menampilkan beberapa karakter sentral, serta satu karakter nggak penting-penting amat.

Penampakan Chastyne Aughmold pada cover bernuansa pink-ungu ini jujur bikin krik-krik. Kemunculannya singkat dan perannya pun bisa dibilang nggak penting di cerita. Cuma nongol sebentar di rapat, terus udahannya tiwas dibunuh pula.

Oops, spoiler…

Kenapa nggak Shah Azhad aja yang ditempatkan di cover? Dia jelas-jelas punya peranan penting di cerita. Apakah seorang kakek-kakek kurang menjual jika ditampilkan di sana? Oh well, mungkin si Chastyne nongol di cover buat jadi fanservice. Yaa, fanservice dengan sepasang big boobs-nya itu.

Ngomong-ngomong soal Chastyne, tadi temen kantor saya kebetulan lewat dan ngeliat cover Tabir Nalar. Beginilah kira-kira komentar doi, “Gedean dada dibanding kepalanya!” yang saya bales dengan nada datar, “Iya, soalnya kan dada sapi.”

Demikian celotehan saya soal Tabir Nalar. Seluruh tulisan di atas hanyalah opini pribadi dari saya sebagai sesama perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *