Skip to main content

REVIEW Enthirea: Pertempuran Dua Dunia yang Bikin Aing Konfyus!

Premis buat sesi review kali ini, satu kata: confusing. Apa sebab? Maunya sih langsung jelasin secara singkat-padat-jelas… Namun sayangnya, apa yang membuat aing konfyus ini tidak bisa dijelaskan dengan satu-dua kalimat saja.

Jadi marilah langsung membaca ulasan tentang… Enthirea: Pertempuan Dua Dunia!

  • Penulis: Aulya Elyasa
  • Editor: Faiz Ahsoul
  • Penerbit: Copernican
  • Tahun terbit: Mei 2008
  • Jumlah halaman: x+290
  • Genre: fantasi

Old School RPG + Druid Si Panjang Umur

Kata orang, don’t judge a book by its cover. Tapi sebagai makhluk visual, mau nggak mau saya cukup mempertimbangkan menarik-nggaknya sebuah buku berdasarkan pandangan pertama, alias cover-nya.

enthirea-cover

Sejujurnya ini bukan tipe cover novel favorit saya, jadi maaf kalau komentarnya semena-mena.

Dari segi gambar nggak begitu masalah. Nah, the main problem is… Pewarnaan. Somehow saya mencium aroma-aroma jadul di sini. Warna-warna dengan efek gelap begini bikin saya teringat dengan game awal tahun 90-an. Old school RPG gitulah. Bukan sesuatu yang saya expect dari sebuah novel terbitan 2008, sejujurnya.

Masih soal pandangan pertama; dari cover pasti kita beralih ke sinopsis.

…”Druid adalah makhluk campuran antara Elf dengan manusia. Dulu mereka memiliki kota yang sangat besar bernama Druidi, tetapi sudah dihancurkan oleh Orgath 1.000 tahun yang lalu. Kekuatan para Druid berasal dari alam, mereka mampu bicara dengan alam. Bahkan kami para Elf tidak dapat melakukan hal itu.”

“Druid memiliki umur yang panjang. Tapi tidak sepanjang kami bangsa Elf. Dan kau terlihat masih sangat muda Asynia, katakan berapa usiamu?”

“Kau betul Isfar, aku baru berusia 150 tahun. Masih sangat muda dibanding Druid moyangku.”…

(Ingin tahu cerita selanjutnya, baca Enthirea “Pertempuran Dua Dunia”. Sebuah kisah fantasi yang bisa membuat khayalan jadi kenyataan)

Sinopsisnya bikin aing konfyus! Dari semua konten yang bisa ditampilkan di wajah belakang buku, kenapa yang ‘dijual’ malah soal umur panjang Druid? Jujur, itu… nggak menarik.

Coba bandingkan dengan:

Seorang anak muda yatim piyatu bernama Elyaz mendapatkan warisan dari ayahnya. Warisan itu adalah sebuah medali yang sangat indah. Setelah Elyaz memakai medali itu di lehernya, banyak kejadian aneh yang terjadi.

Mulai dari mimpi buruk yang menghantui sampai pamanya yang menghilang secara misterius.

Sehingga pada suatu hari saat Elyaz sedang berburu ia menemukan kota elf. Di sana ia mengetahui suatu kenyataan bahwa medali itu hanya dapat di pakai oleh seseorang yang terpilih untuk melindungi Enthirea dari dewa kegelapan Orgath.

Semenjak saat itu Elyaz mulai mengetahui tentang dirinya. Dan bagaimana ia harus memenuhi takdir yang telah di tuliskan untuknya. Seiring petualanganya memenuhi takdir dan menyelamatkan Enthirea, Elyaz juga merasakan cinta dan persahabatan untuk pertama kalinya.

Elyaz juga harus menemukan para pelindung yang lain, untuk menggabungkan kekuatan dalam pertempuran melawan dewa kegelapan.

Apakah bisa Elyaz melakukan memenuhi takdirnya?

Apakah Elyaz akan dapat memperoleh cinta sejatinya?

Apakah bisa Elyaz melindungi Enthirea dari kehancuran?

Sinopsis yang satu ini saya ambil dari blog-nya penulis novel ini. Dan yaah, malah lebih menarik versi ini. Entah kenapa pas terbit, diganti jadi sinopsis yang nggak nendang itu.

Alur Kereta Api Express

Serasa naik kereta api express; itulah yang saya rasakan waktu membalik lembar demi lembar Enthirea.

Banyak adegan yang berlangsung dengan begitu cepat, bahkan menimbulkan kesan angin lalu. Paragraf satu menerangkan adegan X di hari Y, paragraf kedua langsung loncat ke adegan Z di hari A, dan seterusnya.

Oiya, di Enthirea ada lumayan banyak karakter yang rest in pieces (pun intended), sehingga saya sempet mikir, “Ini pembantaian!”

Harusnya hati ini pedih karena banyak karakter yang tewas. Tapi… Sayangnya perasaan itu nggak saya alami. Saya nggak merasa sedih maupun kehilangan. Ada apa ini? Apakah saya tidak normal?

Hal ini lantaran kurang didalaminya gimana perasaan hatinya si karakter. Ya, si X memang sempat menangis di pelukan si Y, tapi setelah itu done. Nggak ada lagi adegan yang menggambarkan kehilangan si X akan si Z. Bahkan setelah kejadian itu, si X terlihat biasa-biasa saja tanpa ada hint nelangsa. Situasi yang mestinya ikut menyayat-nyayat hati pembaca, jadi terasa hambar karena kurangnya pendalaman…

Alur novel ini seperti dipaksakan cepat-cepat. Saya jadi nggak bisa ikut masuk ke dalam dunia Enthirea. Belum ada celah buat masuk; udah pindah adegan, tempat, bahkan hari. Entah ini karena pembatasan jumlah halaman dari penerbit atau karena faktor lain…

Geografis yang Membingungkan

Arah-arah angin di dunia Enthirea benar-benar bikin aing konfyus (lagi). Antara peta sama yang dijelasin di cerita, banyak yang nggak sesuai.

Aku berusaha mengingat letak Eslunia. Seingatku kota itu terletak di bawah lembah dengan hamparang padang hijau rumput yang luas. Ada deretan gunung berdiri di belakang kota. Pada waktu pagi matahari memancarkan cahayanya dari arah kiri, berarti Eslunia terletak di barat. Sedangkan dari kemarin aku terus melangkah ke utara, jadi aku harus pergi ke arah barat daya.

Sekedar info, posisi Elyaz ada di Hutan Ereantera yang letaknya di selatan Eslunia. Yang bikin bingung, ‘kan Elyaz jalan ke utara terus, kok nggak ketemu Eslunia? Udah gitu, dia malah mau jalan ke barat daya lagi. Yang ada, bukan ketemu Eslunia, malah nyasar ke Svaltaria. Entah si Elyaz sengaja dibikin buta arah ato gimana, nih?

Ada satu lagi.

“Dari Eslunia, kita akan berjalan ke utara melewati gunung Ro. Dari situ kita akan berjalan ke arah tenggara sampai kita menemukan mata air Fianha. Perlu aku sampaikan pada kalian, sebelum kita mencapai mata air Fianha, kita akan melewati perbukitan Krana yang terbentuk dari karang yang sangat terjal dan berbahaya. Setelah kita sampai di Fianha, kita akan meneruskan perjalanan ke timur menuju menuju pegunungan Arga, kalian mengerti? Apakah ada pertanyaan?”

Elyaz sama Hriar cuma manggut-manggut aja. Tapi seandainya saya ada di posisi Elyaz, saya bakal protes. Kenapa?

Eslunia ke Gunung Ro (maksudnya Miro kali ya…), arah utara. Sejauh ini masih benar. Dari Gunung Ro ke tenggara! Jalan, jalan, jalan… Kok malah balik ke Eslunia lagi? Ya, okelah, lewatin dulu. Lanjut ke kesalahan berikutnya. Dari Fianha ke timur! Jalan, jalan, jalan… Lho, kok malah ketemu Sungai Elstran?

“Bang Gun, sebenarnya kita mau dibawa ke mana, sih? Situasi lagi genting, kita malah muter-muter nggak jelas gini… Nanti Arga keburu dilibas sama Pasukan Kegelapan, lho!”

Sebenarnya masih ada dua lagi sih, tapi kayaknya contoh-contoh di atas udah cukup. Ngomongin mata angin melulu, bisa puyeng orang yang baca ini review.

Selain masalah arah mata angin, ada yang agak mengganjal di kepala saya… Dari yang saya tangkap selama Elyaz jalan kesana-kemari, kok kayaknya dunia Enthirea kecil bener. Dari Eslunia ke Arga cuma makan waktu empat-lima hari, Erdia ke Esringard juga sama aja (dengan catatan, Elyaz jalan kaki).

Dan pertanyaannya, “Sebenarnya dunia Enthirea seluas apa? Apakah tempat-tempat yang tercantum di peta itu sudah mencakup keseluruhan Enthirea?”

This is Madness!

Part 1

Dua puluh tiga orang nahan lima belas ribu musuh selama 3 jam? Mengingatkan akan pasukan Spartan di film 300? Tapi ini jauh lebih gelo.

Sinting benar Zend ini, calon penyelamat dunia disuruh melakukan misi bunuh diri begitu (kasihan saya sama Elyaz-Alator-Gunsa plus dua puluh orang lainnya). Menambah ke-madness-an Zend; bukannya suruh Grey nembakin panah ke musuh dulu buat memperingan kerja Elyaz dkk, eh nembaknya malah pas Elyaz dkk udah mundur.

Iye, iye, itu buat memperingan kerja pasukan Zend yang nunggu di luar benteng musuh, tapi pentingin nyawa penyelamat dunia, dong…

Part 2

Di Negeri Svaltaria nun jauh di sana, hidup seorang ratu bernama Liervina… Suatu hari, Negeri Eslunia meminta bantuan tentara kepadanya.

“Hoho, tentu boleh. Asal… Kosongin Eslunia! Seluruh wilayah Hutan Ereantera adalah milik saya!!” kata Ratu Liervina.

(ini adegan karangan saya, tapi situasinya mirip dengan yang digambarkan di novel aslinya)

She’s the queen of madness!

Yah, lupakanlah soal si Liervina. Singkat cerita, orang-orang Eslunia diusir dari tanahnya sendiri. Karena mereka butuh banget bantuan tentara, mereka manut aja. Mereka pusing nyari tempat baru buat tinggal, dan ketemulah… Kota Erdia.

Kota Erdia adalah salah satu markas pasukan kegelapan dengan jumlah pasukan super banyak. Alasan dipilihnya kota itu, karena di sana tempat yang cocok buat tempat tinggal elf. Tapi tetap aja… Mau mengambil-alih kota itu adalah madness… Kenapa mereka nggak ngungsi ke Fianha ato Arga aja? Kan bisa bikin kemah di sono.

Part 3

Singkat cerita, akhirnya Elyaz dkk berhasil mengambil-alih Kota Erdia. Suatu hari, ada kabar kalau pasukan kegelapan mau menyerang kota itu dengan armada perang berjumlah super banyak. Akhirnya mereka melakukan showdown di suatu padang luas yang kondisi geografisnya sama sekali nggak menguntungkan buat mereka.

Alih-alih melakukan pertempuran di benteng (yang bagus buat bertahan), mereka malah cari mati ke padang luas… Mungkin karena takut hutan yang ada di sekeliling benteng dibakar, jadi mereka bisa hangus terbakar? Kalau iya, sertakanlah alasan itu dalam rapat strategi mereka.

Aing bener-bener konfyus sama jalan pikiran para karakter di novel ini!

Semoga Lanjutannya…

Gosip-gosipnya sih Enthirea bakal ada buku keduanya, dengan subjudul Delapan Pelindung. Semoga sekuelnya bisa memperjelas ending buku pertama yang menggantung… dan nggak membuat aing se-konfyus ini lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *