Skip to main content

REVIEW Life is Strange – Maximum Baperfield

Udah lama sejak saya terakhir kali dibikin baper gara-gara sebuah game. Dan permainan yang sukses ngebawa perasaan saya itu adalah Life is Strange. Setelah melalui serangkaian emotional roller coaster, akhirnya saya dihadapkan dengan dua pilihan ending yang… sama-sama ngenes. Yah, sebenarnya nggak ada yang salah dengan ending ngenes. Toh nggak semua cerita mesti berakhir bahagia kayak Disney Princess. Tapi cara Life is Strange menyajikan dua pilihan itulah yang membuat para fans terguncang. Temen saya reaksinya bahkan ekstrim: dari yang tadinya cinta, berubah jadi benci banget sama game ini.

Gambar di atas mungkin cukup mewakili perasaan para fans game ini. Gestur yang ditunjukkan Chloe cukup tepat untuk mewakili perasaan mereka yang kini berbalik membenci Life is Strange. Sementara itu saya berusaha buat just gotta let go seperti tulisan yang ada di tembok kamar Chloe.

Jadi apa yang membuat game besutan Dontnod Entertainment ini dicintai sekaligus dibenci?

Life is Strange

  • Developer: Dontnod Entertainment
  • Publisher: Square Enix
  • Genre: interactive story
  • Rilis: Januari-Oktober 2015 (Episode 1-5)
  • Platform: Microsoft Windows, PlayStation 3, PlayStation 4, Xbox 360, Xbox One

Hidup itu aneh; itulah arti dari Life is Strange jika diterjemahkan secara harafiah. Seaneh Max yang mendadak jadi penjelajah waktu. Seaneh penampakan kupu-kupu dan rusa yang kerap muncul di depan Max. Seaneh salju yang turun tidak pada musimnya.

Di game ini kita berperan sebagai Maxine Caulfield, yang lebih akrab dipanggil ‘Max’, seorang siswi di Blackwell Academy. Sebagai seorang yang introvert dan lebih nyaman melihat dunia dari balik lensa, tentu tidak terpikir bahwa dirinya akan terlibat dalam sesuatu yang besar. Setidaknya, sebelum dia mendapati bahwa dirinya dapat memutarbalikkan waktu… Kemampuan yang memungkinkan Max menyelamatkan nyawa sahabatnya, menolong teman-temannya di Blackwell, serta mengungkap misteri demi misteri yang menyelimuti Arcadia Bay. Namun di saat Max sibuk melakukan itu semua, bahaya tornado kian mendekati kota tempat tinggalnya…

Faktor yang paling saya suka dari Life is Strange adalah jajaran karakter serta problematika yang everyone can relate to.

Coba tengok ke belakang, deh. Semasa sekolah pasti ada temen yang pendiam dan ‘asik dengan dunianya sendiri’ seperti Max. Atau yang bandel nan pembangkang kayak Chloe Price. Atau tipe anak orang kaya bertemperamen tinggi dan arogan seperti Nathan Prescott. Atau Victoria Chase, tipikal cewek angkuh yang senang nge-bully teman sekelasnya. Atau anak baik-baik yang menjadi korban bullying, Kate Marsh. Atau yang geek ala Warren Graham. Atau ada juga Rachel Amber si Miss Popular.

Jajaran karakter yang terasa dekat di hati ini membuat saya gampang masuk dan menyatu dengan lingkungan yang disajikan game ini. Saya bisa dibilang masuk ke kategori Max yang pendiam lebih banyak jadi penonton, jadi mengendalikan doi itu berasa natural banget gitu. Selain itu saya pernah berada di posisi Kate. Yaa… nggak bisa bilang kalau saya itu anak alim kayak Kate sih, tapi dulu banget saya jadi korban verbal bullying oleh si ‘Victoria’ #curcoldikit.

Player lain mungkin ada yang ngerasa kalau diri ini ‘Chloe banget’, ‘Warren banget’, atau malah ‘Victoria banget’? Karakter-karakter yang disajikan Life is Strange memang streotip drama SMA banget. Tapi kembali lagi ke paragraf atas, jaman sekolah dulu emang banyak temen-temen kita yang karakteristiknya kurang-lebih mirip mereka.

Feels nostalgic, right?

Selain itu, memaikan Life is Strange itu… Bikin baper. Tapi kata baper di sini nggak ada hubungannya dengan percintaan menye-menye, ya. Lebih ke arah, saking terhanyutnya sama alur cerita game ini, tiap kali ada tragedi dan kejutan yang terjadi sepanjang game membuat saya sebagai player jadi ikutan baper. It’s an emotional roller coaster, especially during episode 3 and 4. Belum lagi ditambah dengan iringan musik gubahan Jonathan Morali yang sangat mendramatisir adegan demi adegan penting di Life is Strange.

Dengan kemampuan memundurkan waktu, Max (tentu aja) jadi gatel buat mengubah hal-hal di sekitarnya. Baik untuk hal-hal kecil seperti menjawab pertanyaan guru dan mencaritahu gosip, sampai yang menyangkut takdir seseorang. Bahkan ada beberapa karakter yang hidup-matinya bergantung pada tindakan protagonis kita ini.

Buat coba-coba berbagai kemungkinan yang ada, setidaknya butuh 2-3 kali ngulang game ini. Satu kali permainan butuh sekitar 8-10 jam buat menamatkannya, jadi nggak terlalu buang waktu.

Meski begitu, terlepas dari betapa pentingnya faktor ‘memutuskan pilihan yang tepat’, pada akhirnya semua pemain dihadapkan dengan dua pilihan terakhir yang menjadi penentu segalanya. Dua pilihan yang menentukan saya dapet ending A atau B.

Sama halnya dengan Life is Strange, sederet cerita penjelajah waktu banyak yang berakhir dengan: mau bolak-balik berapa kalipun demi mengubah masa depan, ujung-ujungnya selalu salah. Shit always happen. Ujung-ujungnya pasrah sama takdir (biarin semua hal terjadi sebagaimana mestinya), atau bersikeras menentang takdir dengan konsekuensi menghancurkan hal-hal sekitar? Kira-kira itulah yang menjadi dilema antara ending A dan B.

Kalau di film sih, penonton ya tinggal duduk manis nonton aja. Tapi kalau di game berasa banget gitu, belasan sampai puluhan jam gameplay jadi terasa sia-sia di hadapan pilihan A atau B ini. Ironis; segala yang saya sebagai Max lakukan sepanjang cerita—sebut saja berusaha berteman dengan Victoria, mencegah Chloe melakukan hal yang bertentangan dengan hukum, sampai menyelamatkan Kate dari percobaan bunuh diri—nggak ada yang memiliki kontribusi sama sekali ke ending. Mau ngelakuin apapun, ya nggak ada efeknya. Udah, terima aja itu dua ending.

Faktor kesia-siaan itulah yang membuat sebagian fans jadi berbalik membenci Life is Strange.

Kalau ngebahas ending A dan B lebih lanjut, bagi saya keduanya mengenaskan… dalam cara yang berbeda.

SPOILER ALERT! READ AT YOUR OWN RISK
Mengorbankan Chloe? Maka…

Chloe, karakter favorit saya, tewas (sudah jelas). Tapi kadar kengenesannya nggak cukup sampai di situ, saudara-saudari. Chloe, bisa dibilang, mati penasaran. Dia nggak akan pernah tahu kalau Max ternyata kembali ke Arcadia Bay, David ternyata nggak sejahat yang selama ini dia anggap, bagaimana nasib Rachel, serta mengetahui bahwa Jefferson adalah dalang di balik kemalangan yang menimpa Rachel. Tangisan Max pun pecah karena dirinya diam saja waktu Chloe meregang nyawa di tangan Nathan.

Mengorbankan Arcadia Bay? Maka…

Semua penduduk kota kecil itu (sepertinya) tewas. Yah, kecuali Max dan Chloe. Tapi benarkah keduanya akan hidup bahagia selamanya? Sepanjang Episode 1-5 entah berapa kali Chloe mati; seakan terus dikejar-kejar oleh kematian. Skenario Chloe (akhirnya) benar-benar kehilangan nyawanya setelah adegan melewati puing-puing Arcadia Bay adalah hal yang sangat, sangat, memungkinan untuk terjadi. Hal yang terjadi berikutnya? Kondisi psikologis Max hancur lebur karena setelah mengorbankan seluruh penduduk Arcadia Bay, lalu pada akhirnya dia harus kehilangan Chloe. Apapun yang Max lakukan demi menyelamatkan Chloe, semua itu tidak berguna. She’s only delaying the inevitable.

Meski begitu, faktor ending yang apa banget itu nggak serta-merta membuat saya mengganti gelar Life is Strange dari yang tadinya masterpiece menjadi ampas. Toh nyatanya, episode 1-4 udah bagus banget kok. Episode terakhirnya aja yang mengecewakan. Saya malah sempet denial dengan nggak menganggap Episode 5 pernah ada di muka bumi. Tapi yah, masak mau denial terus… Ya kali semuanya berakhir di Episode 4 yang penutupannya cliffhanger abis itu.

Jadi seperti tulisan di tembok kamar Chloe, saya “Just gotta let go” aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *