Skip to main content

REVIEW Oden Cart 2 – Same Old with New Twists

Oden Cart pertama menutup kisahnya dengan manis. Sang kakek dipertemukan kembali dengan anaknya, bahkan dapat calon mantu pula. Meski tergolong berusia senja dan anaknya sudah bisa hidup mandiri, hingga saat ini sang kakek masih berjualan oden. Namun siapa sangka, suatu malam, saat sedang menarik gerobak odennya, sang kakek mengalami kejadian mistis… di mana dia terbawa ke masa ratusan tahun yang lalu, ke zaman Edo!

Oden Cart 2: A Taste of Time

  • Developer: GAGEX
  • Rilis: 14 Mei 2017
  • Platform: Android, iOS

Secara gameplay nyaris nggak ada yang berbeda dari pendahulunya. Tiap pelanggan punya level loyalitas, varian oden favorit, dan gripe bubbles yang merepresentasikan topik curhat mereka. Dari sisi interface pun sebelas-duabelas sama Oden Cart pertama. Perbedaannya mungkin hanya di banyaknya varian oden yang bisa disajikan dalam satu waktu (di Oden Cart pertama bisa 8 sedangkan di sini hanya 3), adanya badai stress-relief gripes, serta timing kemunculan ending para pelanggan.

Bahkan ada beberapa karakter yang somehow muncul kembali, padahal setting-nya terpaut ratusan tahun. Dua diantaranya adalah… masih inget sama pasangan menantu-mertua yang nggak pernah akur itu? Rupa-rupanya perseteruan mereka sudah bermula dari era Edo! Saat reinkarnasi ke era Heisei (zaman sekarang) pun mereka kembali dipertemukan sebagai menantu dan mertua. Talk about fate… Ada lagi samurai berbaju putih yang wajahnya mirip dengan anak si kakek. Alih-alih sami mawon seperti duo mantu-mertua, permasalahan yang dihadapi ‘anak si kakek’ jadi ala-ala drama samurai jadul: mencari samurai bermata satu yang membunuh ayahnya.

Jajaran pelanggan lainnya diisi oleh karakter-karakter baru. Walau ada beberapa sih, yang konfliknya mirip-mirip sama pelanggan dari era Heisei.

Sampai sini saya mikir: masak nggak ada yang baru dari Oden Cart 2? Gameplay bolelah sama persis, tapi serius sampai cerita-ceritanya juga? Masak cuma daur ulang Oden Cart pertama dengan judul baru dan beberapa karakter baru?

Untungnya anggapan saya terbukti salah. Gripe demi gripe yang muncul dari para pelanggan baru ternyata menawarkan kisah yang cukup segar. Berdasarkan pengalaman pribadi, apa yang saya prediksi di awal (siapa punya hubungan sama siapa), seiring berjalannya waktu, terbukti meleset. Ternyata begini, ternyata begitu. Bahkan terdapat beberapa plot twist di akhir cerita yang membuat saya berkata, “Whaaat…?!”

Pada prekuelnya, masing-masing karakter punya ending sendiri. Di sini beda lagi timing-nya. Sebut saja duo samurai putih dan samurai mata satu, mempunyai ending yang sama. Jadi anggaplah kamu udah menyelesaikan cerita si samurai putih sampai ada tulisan “complete” seperti gambar di bawah. Ending si samurai putih nggak akan muncul karena pasangannya, si samurai mata satu, belum selesai curcol. Pengecualian untuk beberapa karakter seperti The Scribe, Dumpling Girl, dan Reluctant Ronin yang nggak punya hubungan apa-apa dengan karakter lain (mereka ending dewek-dewek).

‘Dipangkas’ jadi sepaket rasanya jadi agak-agak kurang spesial sih, tapi bagusnya nggak bakal ada lagi kejadian ‘salah urutan’ ending kayak di Oden Cart pertama. Salah urutan itu bikin bete, soalnya jadi udah ke-spoil duluan gara-gara udah liat ending karakter yang satunya lagi.

Masih berhubungan sama ending, saya ngerasa lebih cepet namatin Oden Cart 2 ketimbang yang pertama. Saya lupa dulu butuh waktu berapa hari buat namatin yang pertama, tapi kayaknya nggak secepet ini juga (dua hari kelar). Dan duitnya jauh lebih makmur, hehe. Di sini kas akhir gerobak oden saya 7,2 juta sen (di prekuelnya saya cuma berhasil ngumpulin 2 jutaan yen).

Penyebabnya? Mungkin karena di game ini ada stress-relief gripes, fenomena di mana puluhan gripes tumpah ruah memenuhi layar. Cara mengaktifkannya, cukup sentuh icon berwarna abu-abu yang tiap beberapa menit sekali muncul di atas menu Restock. Nyebelinnya, kita bakal disuguhi video iklan berdurasi sekitar 10-15 detik. Tapi habis itu, voila! Silakan panen puluhan stress-relief gripes. Atau bisa juga dapet rejeki nomplok bak menang lotre (rekor saya pernah dapet 600 ribuan sen).

To sum it up, Oden Cart 2: A Taste of Time is same old with new twists. Oh, how I fell for the second time with this heartwarming story.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *