Skip to main content

REVIEW The Black Magician Trilogy: The Magicians’ Guild

The Magician’s Guild adalah salah satu novel yang, bagi saya, cukup bersejarah. Novel ini berperan besar dalam gaya penulisan saya saat ini, karena jadi salah satu novel fantasi pertama yang saya baca. Jadi rasanya nggak afdol gitu, kalau nggak nge-review novel ini…

Well, langsung aja ke sesi review novel ini~

The Black Magician Trilogy: The Magicians’ Guild

  • Pengarang: Trudi Canavan
  • Penerjemah: Maria M. Lubis
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Tahun Terbit: 2008
  • Jumlah halaman: 618

Gadis Kumuh yang Membuat Para Penyihir Gempar

Menurut saya sinopsis yang tertera di cover belakang buku udah cukup menggugah rasa penasaran dan mewakili inti cerita novel ini, jadi langsung saya copy-paste aja tanpa membuat sinopsis versi saya sendiri. Iya, saya pemalas.

Sonea menatap kedua tangannya. Berhasil.

Aku merusak perisai pertahanan mereka, tetapi itu mustahil, kecuali…

Kecuali aku menggunakan sihir juga.

Gadis miskin itu membuat gempar kota Imardin. Dia berhasil menembus perisai pertahanan para penyihir saat terjadi aksi Pembersihan Kota. Seorang penyihir terluka. Kekuatan sihir alamiah Sonea membuat Persekutuan Penyihir berang.

Jika tidak segera ditemukan, efek sihir Sonea akan membahayakan seluruh kota. Para penyihir dari Persekutuan pun mengejarnya. Sonea terpaksa harus bersembunyi di lorong-lorong gelap bawah tanah dan meminta perlindungan dari Kaum Pencuri.

Apakah Persekutuan Penyihir ingin menghukumnya karena telah merobohkan salah seorang anggota mereka? Atau, apakah mereka merasa gadis itu menggerogoti kekuasaan persekutuan penyihir?

Dunia yang Terencana Matang

Kisah The Magicians’ Guild ini terjadi di Daratan Kyralia, tepatnya di Kota Imardin. Di kota itu ada dua lapisan sosial yang menonjol. Strata sosial tinggi diwakili oleh orang-orang Persekutuan Penyihir, sedangkan strata sosial rendah adalah para penghuni pemukiman kumuh.

Kedua strata ini hampir selalu bertikai. Yang penyihir memandang masyarakat kumuh seperti kuman, sedang yang masyarakat kumuh membenci para penyihir yang suka bertindak semena-mena. ‘Konflik sehari-hari’ ini pun membentuk suatu premis yang cukup menjanjikan.

Secara keseluruhan, konsep dunia di The Black Magician Trilogy dirancang dengan matang. Mulai dari tata kota Imardin sampai berbagai fenomena sosial yang mewarnai kehidupan para warganya, semua dijabarkan dengan cukup detail oleh Trudi Canavan.

The Black Magician Trilogy bisa dijadikan referensi kalau berniat menulis novel dengan setting yang mendalam.

Hal yang Saya Benci Sekaligus Salut

Di beberapa halaman pertama, saya menemukan kosakata aneh: faren.

Biar nggak bingung, faren adalah binatang berkaki delapan. Teringat sama laba-laba? Well, mungkin Canavan memang terinspirasi sama laba-laba? Terus mboh kok nggak pake istilah ‘laba-laba’ yang udah dikenal aja, sih? Ngeribetin diri sendiri aja.

Dalam hal ini, reaksi saya terombang-ambing antara:

  1. Memuji kreativitas Canavan dalam membuat istilah-istilah baru (berkesan lebih original dan lebih fantasiyah aja, gituh).
  2. Pusing sendiri karena kudu mengingat serangkaian istilah asing itu (yang jumlahnya nggak sedikit).

Bukan Sonea Melulu

Sudut pandang di The Magician’s Guild nggak hanya terfokus pada Sonea selaku pemeran utama. Kadang sudut pandang berpindah ke Cery, Rothen, atau Dannyl. Otomatis, karakter yang tergali dan berkembang bukan cuma si Sonea aja.

Sayangnya, personality-wise karakter-karakter di novel ini belum berhasil bikin saya jatuh hati. Saya cenderung suka sama karakter yang sifatnya agak eksentrik. Tapi para karakter di novel ini semuanya… normal-normal.

Mood Rontok

Sebenarnya penulisan paragraf narasi maupun deskripsi di novel ini bagus. Tapi sayang, ada beberapa deskripsi yang dimunculkan nggak pada tempatnya (bahkan merusak mood) seperti yang ada di halaman 190 dan 191 ini:

Lelaki besar itu tidak tertidur nyenyak—mungkin khawatir jika Kaum Pencuri mampir ke persembunyian mereka. Seperti bisa membaca pikiran Cery, Tullin tiba-tiba berjalan ke arah pintu belakang. Tubuh Cery menegang, siap untuk menyelinap pergi, tetapi Tullin tidak meraih pegangan pintu. Malahan, jari-jarinya mendekati sesuatu di udara dan menyusuri jejaknya ke atas, di luar jangkauan mata Cery. Tali, Cery menduga. Dia tidak perlu melihat apa yang tergantung di balik pintu untuk menebak bahwa Tullin memasang suatu jebakan bagi para tamu yang tak diundang.

Merasa puas, Tullin bergerak ke tempat tidur kedua. Dia menarik sebilah pisau dari sabuknya dan meletakkannya di meja dekat tempat tidur, kemudian mematikan lampu. Setelah memandang berkeliling ruangan sekali lagi, dia meregangkan tubuh di atas tempat tidur.

Ini adegan Cery waktu mau menyusup ke sebuah toko. Suasana udah mulai tegang gitu kan, di dua paragraf pertama. Tapi begitu masuk paragraf tiga…

Cery memerhatikan pintu. Raka tiba di Imardin sebagai kacang-kacang berkulit, terbungkus di dalam daunnya sendiri. Kacang-kacang itu dikupas dari kulitnya oleh para pemilik toko dan dipanggang. Daun-daun dan kulit kacang itu biasanya dibuang ke dalam sebuah corong yang mengarah ke sebuah bak di luar, dan isi bak-bak tersebut dikumpulkan oleh anak-anak yang menjualnya kepada para petani di dekat kota.

Lho, kok malah nyasar ke penjelasan kacang raka? Mood pun tadi langsung rontok seketika! Tadinya udah kebawa sama perasaan tegang yang dialami Cery, tapi akibat penjelasan-sangat-nggak-penting si kacang raka ini…

Alur yang Lambat

Dari segi alur, terasa lambat di awal. Bayangin, 300 halaman (atau separuh buku) abis buat nyari-nyari si Sonea doang!

Kedengeran membosankan memang; tapi kalau diliat dari segi kelogisan, hal itu bisa ditolerir. Alasannya:

  1. Sonea dibantu Cery dan Harrin, pencuri yang notabene emang ahlinya kabur.
  2. Sonea dititipkan ke Kaum Pencuri yang markasnya tersembunyi banget.
  3. Para penyihir nggak bisa bergerak leluasa di tempat kumuh, karena suatu dan berbagai hal.
  4. Imardin bukanlah kota yang sempit.

Untungnya di paruh terakhir buku ada beberapa kejadian penting dan menarik: mulai dari Sonea memergoki sang Ketua Tertinggi melakukan ‘suatu hal mencurigakan’, Fergun yang punya rencana jahat ke Sonea dan Cery, pro-kontra soal keberadaan Sonea ‘si perempuan kumuh’ di Persekutuan, sampai perebutan hak pembimbingan Sonea oleh Rothen dan Fergun.

World-building Oke, Tapi…

Menurut saya belum ada hal yang benar-benar memikat hati di buku pertama ini, kecuali world-building dan spekulasi kalau sang Ketua Tertinggi Persekutuan ternyata… (ups, hampir spoiler). Barangkali misteri yang meliputi sang Ketua Tertinggilah yang bakal bikin saya tertarik buat beli The Novice, sekuelnya The Magicians’ Guild.

3 thoughts to “REVIEW The Black Magician Trilogy: The Magicians’ Guild”

    1. Soalnya Black Magician termasuk novel fantasi perdana yg saya baca sih^^ (even sebelum ketemu Harry Potter). Ah, Traitor Spy blom baca 🙁 High Lord pun belum (ketahuan deh *kabur*). Traitor Spy yg ceritanya anak Sonea?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *