Skip to main content

REVIEW Ther Melian: Revelation – Harta Terpendam Fiksi Fantasi Indonesia

Nama Elex Media Komputindo udah identik banget sama penerbit komik, tapi tidak, Ther Melian adalah sebuah novel. Terus kalau kamu kebetulan liat novel ini di toko buku, mungkin nggak bakal nyangka kalau ini novel lokal. Soalnya cover bernuansa biru gelapnya itu berasa kayak novel terjemahan banget. Tapi kalau beralih ke nama pengarangnya… Shienny M.S. Well… bukan nama yang sangat Indonesiyah seperti Putri, Siti, Aisyah, dkk tapi penggunaan nama Shienny lebih banyak dijumpai di Indonesia daripada di negara-negara barat.

Yap, TM adalah novel fantasi karangan penulis Indonesia. Sekedar info, dulunya Shienny aktif sebagai komikus dengan nama pena Calista. Mungkin kamu pernah liat atau bahkan baca beberapa komik karyanya seperti Past Promise, White Castle, Le Ciel, dan lain-lain.

Saya sendiri pernah baca (nyaris) semua komiknya Shienny. Sedikit banyak, jadi penasaran juga, gimana kiprah Shienny yang beralih dari komik ke novel, karena keduanya adalah media yang bisa dibilang sangat berbeda.

Ther Melian: Revelation

  • Pengarang: Shienny M.S.
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tahun Terbit: 2010
  • Jumlah Halaman: 448

Vrey adalah seorang pencuri berdarah Vier-Elv (manusia separuh elf). Sehari-harinya, dia bersama komplotan Kucing Liar mencari nafkah dengan cara yang jauh dari kata halal. Menerobos hutan para Elvar (sebutan untuk elf di dunia TM), membunuhi makhluk-makhluk suci yang dilindungi, lalu menjual berbagai bagian tubuh para korban ke pasar gelap. Diam-diam, perempuan ini mengumpulkan sayap Nymph untuk dibuat menjadi Jubah Nymph… pakaian pelindung yang konon katanya seringan bulu, tetapi memiliki ketahanan setara dengan baja. Dari sanalah, Vrey serta temannya Aelwen, memutuskan untuk mengembara demi menyelesaikan jubah tersebut.

Di lain tempat, ada pula Valadin. Saat ini, keberadaan Elvar di dunia seakan terpinggirkan oleh karena dominasi para manusia. Ras pendatang yang menggeser kedudukan Elvar di benua Ther Melian, dengan segala keserakahan mereka yang merusak alam. Sebagai seorang ksatria Elvar, dia merasa bahwa selama ini para tetua rasnya bersikap terlalu lembek, sehingga manusia bisa berbuat sesuka mereka kepada alam, yang berujung pada terpinggirkannya ras Elvar. Lantaran tiada tetua Elvar yang menghiraukan ambisinya untuk mengukuhkan kembali posisi Elvar di Ther Melian, Valadin pun akhirnya memutuskan untuk mengembalikan kejayaan bangsa Elvar dengan caranya sendiri.

Cerita TM nggak ngejelimet. Terfokus pada dua orang yang berlatar belakang sangat berbeda: Vrey dan Valadin. Dari premis tentang dua orang yang memulai perjalanan dengan starting point berbeda, bisa ditebak kalau akhirnya mereka akan bertemu di titik klimaks novel. Tapi apa yang bakal terjadi setelah mereka bertemu? Yah, kalau itu, silakan baca novelnya.

Menurut saya, sejauh ini cerita TM lumayan. Adegan seru, ada. Tapi konflik yang mengaduk-aduk emosi pembaca, belum. Malah, buku pertama ini baru mulai menggiring pembaca menuju ke konflik sebenarnya. Belum keliatan jelas, seperti apa konflik besar yang bakal terjadi nantinya. Tapi karena premisnya adalah ambisi Valadin untuk mengembalikan kejayaan Elvar, sementara manusia juga pasti nggak rela kehilangan tanah dan sumber daya alam yang udah mereka kuasai… prediksi saya, ujung-ujungnya perang besar antar kedua ras itu.

Plot buku ini berjalan dengan agak lambat. Hal yang kadang membuat saya menemui titik jenuh, karena adanya beberapa bab yang beruturut-turut menceritakan nuansa santai; tanpa adanya konflik maupun adegan action yang bikin greget.

Dan saya bingung mau menyebut ini sebagai kelebihan atau justru kelemahan TM Revelation: ending novel ini sangat menggantung. Nggak diketahui gimana nasib Vrey di akhir buku ini; kecuali kalau saya baca Ther Melian Chronicle, buku kedua. Di satu sisi, bikin penasaran (dan pengen cepet-cepet baca buku keduanya). Tapi di sisi lain, bikin gemes.

Dari cerita, mari beralih ke karakter.

Ilustrasi Vrey dan Alwen di salah satu bab.

Lineup karakter yang ditampilkan di buku pertama TM ini beragam dan cukup likeable. Bicara soal kontras; ada Vrey yang licik dan Laruen yang meski sama-sama Vier-Elv, tetapi tumbuh di lingkungan sangat berbeda (Vrey di tengah komplotan pencuri, sementara Laruen melindungi hutan Elvar dari para tangan nakal). Valadin dan Eizen, biarpun bersekutu, mereka menjalankan misi dengan cara yang sama sekali berbeda—Valadin melakukan segala sesuatu (bahkan saat membunuh sekalipun) dengan cara terhormat, sementara Eizen cenderung haus darah dan egois. Aelwen dan Ellanese mewakili sisi wanita berpenampilan anggun, tapi (lagi-lagi) memiliki perbedaan yang jelas—kalau Aelwen baik hati, tidak sombong, dan (mungkin) rajin menabung; Ellanese adalah seorang yang angkuhnya kebangetan.

Biarpun di perbandingan tiga pasang karakter ini, mereka terlihat seperti hitam VS putih, sebenarnya nggak juga. Vrey, Eizen, dan Ellanese—yang dari perbandingan di atas kelihatan sebagai the bad guys—sebenarnya mereka juga punya sifat baiknya masing-masing. Begitu pula dengan Valadin, Aelwen, dan Laruen; tidak selalu telihat putih bersih. The bottom line is: most of the characters are gray; not black nor white.

Sejauh ini karakter favorit saya adalah Aelwen. Jarang-jarang saya sukanya sama karakter tipe ‘alim’ gini (biasanya yang badass atau cool macam kulkas).

Next, elemen yang nggak kalah pentingnya dengan cerita dan karakter: penulisan.

Well written. Bukan dalam konteks penggunaan kata yang berbunga-bunga atau ‘nyastra banget’. Kata-kata yang digunakan di TM malah cenderung umum (nggak usah bolak-balik KBBI waktu baca novel ini). Struktur kalimatnya pun nggak ngejelimet. Paragraf narasi dan deskripsinya juga mengalir dengan lancar. Walau saya suka geregetan sendiri pas ngebaca banyak kalimat bertanda baca koma, yang mestinya bisa diganti pakai tanda titik (saking mengalirnya).

Hal yang cukup menganggu ada di bagian editing. Saya menemukan banyak hal yang luput dari mata editor. Misalnya: nama ‘Laruen’ jadi ‘Lauren’, kata (bahkan frase) yang terulang sampai dua kali, dan beberapa kesalahan ketik lainnya. Semoga bisa diperbaiki kalau buku ini dicetak ulang.

As for setting, I’d say well done. World building TM direncanakan dengan matang; yang bisa dilihat dari adanya sejarah dunia antara manusia-Elvar-Draeg, pengklasifikasian Elvar berdasakan peran atau klan, adanya penjelasan tentang teknologi kapal udara (walau saya belum ngeh banget sama asal-usul teknologi machina di sini), dan lain-lain. Hal yang didukung dengan rangkaian paragraf deskripsi yang menggambarkan berbagai lokasi di buku ini dengan cukup jelas. Lalu ada pula gambar peta yang membantu pembaca mengetahui posisi geografis setiap tempat.

Namun perihal setting, ada satu terminologi yang mengganjal pikiran waktu ngebaca TM: komodo. Begitu liat kata ‘komodo’, pikiran saya langsung melayang ke hewan endemik Indonesia yang tahun lalu sempat dikampanyekan dengan jor-joran karena pemilihan 7 Wonders itu. Tapi yang bikin heran, di TM komodo digunakan sebagai hewan tunggangan dan bisa berlari dengan cepat. Saya sempat bingung sendiri; dengan badan komodo Indonesia yang bantet itu, gimana cara orang nunggangin dia? Dan komodo berkaki pendek, sehingga dia nggak bisa berlari terlalu cepat (hanya sekitar 20 km/jam).

Raptor? Komodo?

Kebingungan saya baru terjawab di bab delapan, di mana pada awal bab itu ada ilustrasi komodo versi TM. Ternyata wujud komodo versi TM beda jauh dengan komodo versi Indonesia. Postur badan komodo di sini lebih terlihat seperti dinosaurus jenis Velociraptor. Saya akhirnya baru memaklumi kenapa komodo bisa dijadikan sebagai hewan tunggangan di dunia tersebut. Tapi hei, penampakannya beda pisan euy sama komodo beneran! Maksud saya, kenapa si komodonya nggak dikasih nama lain aja kalau ternyata penampilan fisiknya beda jauh begini.

…dan dua paragraf habis buat ngebahas komodo.

Waktu ngebahas komodo tadi, saya juga sempat menyebut tentang ilustrasi pembuka bab. Yap, di setiap kedelapan belas bab TM, selalu ada sisipan ilustrasi—yang entah menampilkan para karakter utama, makhluk-makhluk (seperti si komodo), atau beberapa benda yang berperan penting di cerita. Proporsi badan para karakternya bagus, tapi kadang gestur dan ekspresi mereka telihat agak kaku. Untuk benda-benda, memang nggak hidup, tapi garisnya yang terlalu lurus dan berketebalan sama membuatnya kurang berdimensi. Untuk mengurangi kekakuan, mungkin bisa pakai arsiran bergaris ‘sembarangan’ seperti kalau lagi membuat sketsa. Tapi saya sendiri nggak gitu ngerti soal tentang teknik-teknik menggambar, jadi cuma bisa ngomen seadanya.

Well, sampai di sini aja review saya buat buku perdana TM ini~ Novel ini memuaskan dan punya potensi buat jadi serial fantasi yang ciamik. Bisa dibilang, ini adalah harta terpendam fiksi fantasi Indonesia. Dengan ini, mari kita nobatkan Ther Melian menjadi sebuah Termos Berlian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *