Skip to main content

Nyontek Strategi “Beda Social Media, Beda Konten” dari Brodo (dan Sisdo)

Jarang-jarang nulis soal sosmed (sebenarnya malah baru pertama kalinya di blog ini), pada kesempatan ini saya mendokumentasikan ilmu berharga yang didapat dari presentasi Brodo di Kopdar SMSC (Social Media Strategist Club) pada Jumat lalu. Dicatet supaya nanti-nanti nggak lupa, sekalian sedikit memeriahkan blog yang sepi update ini, hahaa.

Penasaran? Yuks kepoin presentasi dari Brodo (dan Sisdo) ini!

Sekedar info, Brodo adalah brand sepatu cowok asal kota kembang Bandung. Hal yang melatarbelakangi lahirnya Brodo sendiri, bisa dibilang cukup unik. Co-founder Brodo, Yukka, alkisah mencari sepatu formal untuk sidang tugas akhirnya. Dengan kakinya yang berukuran 46 itu, susah baginya untuk menemukan sepatu yang benar-benar pas (baik dari segi ukuran maupun harga). Dari permasalahan personal tersebut, Yukka dan Putera, kedua co-founder Brodo, pun memutuskan untuk memulai usaha produksi sepatu pria yang stylish dan pas di kantong… dan lahirnya brand sepatu Brodo yang kita kenal sekarang.

Balik lagi ke topik social media. Brodo sendiri punya enam akun social media yaitu Facebook, Instagram, Twitter, Google+, Tumblr, serta YouTube. Dengan cukup banyaknya akun social media yang diurus, social media manager lain mungkin bakal kepikiran buat pakai cara ‘agak-agak nge-cheat‘. Yah, dengan cara posting konten yang sama persis di semua social media.

Namun Brodo justru melakukan sebaliknya. Seluruh akun social media Brodo justru menampilkan konten yang berbeda-beda satu sama lain. Dan kesemuanya ditangani dengan baik oleh para miminnya.

Facebook (BRODO Footwear)

Objective: Hard Selling Content

Akun Facebook fanpage inilah yang menjadi awal mula perjalanan Brodo di dunia e-commerce. Waktu belum punya website kece kayak sekarang, Brodo sepenuhnya berjualan melalui platform ini. Waktu itu cara berjualannya tentu mirip dengan toko-toko FB lainnya. Tapi pemesanan via FB udah jadi lembaran masa lalu.

Meski sekarang Brodo nggak melayani order via FB lagi, mereka nggak lupa akar. Mimin fanpage Brodo secara konsisten terus posting foto sepatu koleksi mereka, disertai dengan harga dan link ke halaman produk. Pangsa pasar pengguna Facebook memang sangat subur untuk keep the frequent buyer up-to-date with the brand maupun menggaet pembeli baru.

Namun salah satu masalah klasik dalam pemasaran-di-social-media-tapi-belinya-di-website adalah behavior sebagian pengguna social media yang… malas baca, apalagi membuka link yang terpampang di tubuh post-nya. Sesama mimin sosmed, pasti gemes deh kalau baca pertanyaan “Harganya berapa?” atau “Belinya di mana?” atau “Cara pesennya gimana?” yang dilontarkan para pemirsa. Padahal di caption foto ada harga dan link ke halaman produk (di sosmed brand lain kadang malah ada cara ordernya juga).

Alih-alih nyuekin pertanyaan yang apa bangetlah itu, para Brodo dan Sisdo menanggapi para pemirsanya dengan sabar. Dan salah satu bentuk pelayanan CS Brodo yang patut diacungi jempol adalah: mereka bersedia repot-repot memandu secara step by step cara order produknya. Memandunya pun personal via telepon. Dan kalau si calon pembeli ini masih nggak ngerti caranya juga, CS Brodo lah yang memesankan produknya (jadi si pembeli tinggal setor data dan transfer pembayaran aja). Wiiih, kurang baik apa pasukan CS Brodo ini?

Instagram (@brodofootwear)

Objective: Inspire People with Great Photos

Tujuan Brodo di akun social media ini sejalan dengan image yang melekat di pikiran kita jika mendengar kata Instagram: tempatnya sharing foto-foto cantik. Well, kalau dalam kasus Brodo: foto ganteng.

Sebenarnya Brodo bisa aja melakukan hard selling di Instagram, seperti halnya di Facebook fanpage mereka. Soalnya udah jadi rahasia umum kalau akhir-akhir ini Instagram berubah fungsi jadi tempat jualan. Tapi miminnya Brodo memutuskan buat nggak mengikuti jejak para penjual Instagram.

Langkah yang tepat dari Brodo. Lantaran sosmed photo sharing ini sebenarnya nggak cocok buat hard selling, apalagi kalau ordernya via website kayak Brodo. Kenapa? Karena pengguna Instagram fokusnya ke foto, bukan caption yang bertengger di bawahnya. Selain itu, Instagram nggak bisa membaca hyperlink (apapun bentuk link yang dicantumkan ke caption nggak akan bisa diklik).

Nah, bisa diliat berbagai foto ganteng yang bertebaran di akun Instagram Brodo. Semua foto di sini (tentu aja) menampilkan sepatu-sepatu koleksi Brodo sebagai objeknya. Dan kerennya, Brodo nggak menyewa jasa fotografer dari agency tertentu. Semuanya adalah hasil jepretan fotografer in house dari Brodo sendiri.

Caption yang menyertai setiap fotonya pun nggak bernuansa jualan.

Jadi apa yang ingin akun Instagram Brodo capai?

Menebarkan foto artistik yang menginspirasi para followers-nya. Kalau diperhatikan, banyak dari fotonya yang bertemakan travel. Selain itu biarpun modelnya cuma nampang kakinya doang, somehow selalu keliatan macho (berkat properti dan pemandangan sekitarnya). Sepertinya Brodo mau menginpirasi para Brodo Gentlemen supaya tampil macho dan stylish, sekaligus berani buat bertualang ke tempat-tempat yang nggak lazim.

Twitter (@brodofootwear)

Objective: Daily Conversation

Jenis konten yang dikicaukan oleh Brodo di akun Twitter-nya cukup beragam. Mulai dari jualan, pengumuman, sampai menanggapi pelanggan. Namun yang menjadi fokus utama dari Brodo adalah menjalin percakapan dengan para Brodo Gentlemen.

Twitter memang media yang pas untuk melakukan percakapan singkat. Mulai dari menanyakan harga, ketersediaan ukuran, cara pemesanan, status order, dan berbagai pertanyaan lainnya… sampai sarana untuk meninggalkan testi bagi Brodo Gentlemen yang udah menjajal berbagai varian sepatu Brodo.

Selain rutin menanggapi para followers, para mimin juga menciptakan hashtag unik yang melekat pada brand Brodo di social media (khususnya Twitter) yang sering dipakai para netizens waktu ngomongin soal Brodo, seperti: #TosJantan.

Google+ (Brodo Gentlemen Store)

Objective: Informative Content

Kalau diliat dari frekuensi posting Google+ page ini jauh lebih jarang dibanding temennya (Facebook fanpage). Yang menjadi tujuan Google+ page ini bukanlah berjualan, melainkan berbagi informasi. Lagian Google+ juga belum diinvasi para penjual online kayak Facebook dan Instagram, sih. Jadi rada nggak ngena juga kalau Google+ dipakai buat jualan.

Konten informasi seperti cara merawat sepatu Brodo, cerita di balik desain sepatu tertentu menghiasi feed Google+ Brodo, dan OOT tips mudik mewarnai sosmed ini.

Hmm, nggak banyak yang bisa saya kupas dari Google+ page Brodo, karena kontennya dikit (dan para Brodo Gentlemen yang minim respon). Tingkat penggunaan Google+ di Indonesia emang termasuk rendah, sih.

Tumblr (Brodo Footwear)

Objective: Appreciate Our Customer’s Photos

Foto-foto barang belanjaan kayaknya udah jadi budaya kita banget. Terutama bagi yang aktif banget di social media; abis beli apa langsung foto terus di-upload ke Path, Facebook, Twitter, atau Instagram.

Tentunya ini juga berlaku bagi para Brodo Gentlemen. Tanpa disuruh, mereka udah ngiklanin Brodo dengan cara upload foto sepatu di berbagai akun social media.

Gimana cara Brodo mengapresiasi para Brodo Gentlemen yang udah jadi pasukan marketing gratisan Brodo? Bagi Brodo nge-like, nge-love, dan nge-RT foto para Brodo Gentlemen belumlah cukup. Untuk mengumpulkan semua fotonya di satu tempat, Brodo membuat akun Tumblr yang didekasikan sebagai galeri fans.

YouTube (Brodo Gentlemen)

Objective: Video Content

Kalau ngomong soal YouTube… kontennya pasti video lah yaaa. Tinggal ngulik dikit aja, video di channel YouTube Brodo ini tipenya kayak apa aja.

Brodo sendiri cukup kreatif dalam mengisi channel YouTube mereka. Sebut aja web series, promosi produk, laporan event, dan lain-lain. Ada beberapa video Brodo yang saya suka, terutama yang parodi Investigasi Brodo Palsu.


So… why bother to differentiate one social media to another? Kenapa mesti kerajinan gini?

Alasan yang Brodo kemukakan simple, tapi ngena: “Kalau kalian follow semua sosmed Brodo dan waktu buka akun sosmed lain nemuin post yang isinya sama lagi, lagi, dan lagi… apa nggak bosen? Selain itu kalau semua sosmed isinya sama, nanti yang kalian follow cuma Facebook aja atau Twitter aja dong?”

Bener banget! Para mimin Brodo mengerti banget perasaan pemirsanya. Put yourself in other’s shoes emang punya andil yang gede banget buat menentukan ‘strategi perang’. Terutama, kalau yang kita hadapi adalah khalayak banyak…

20 thoughts to “Nyontek Strategi “Beda Social Media, Beda Konten” dari Brodo (dan Sisdo)”

  1. bro.do adalah salah satu lokal brand yang menurut gue dia sukses banget..dari segi branding dia oke banget..model sepatuya juga bagus..gue jg udah pake sandalnya empuk banget..enak lah nyaman! kulit bro.do berkualitas gk kalah dengan merek lain!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *